Home » Event » [Event Recap] KoinWorks x Pinhome: Anak Muda Susah Beli Rumah, Bener Nggak Sih?

[Event Recap] KoinWorks x Pinhome: Anak Muda Susah Beli Rumah, Bener Nggak Sih?

·
4 menit
[Event Recap] KoinWorks x Pinhome: Anak Muda Susah Beli Rumah, Bener Nggak Sih?

Generasi milenial semakin sulit untuk mendapatkan hunian yang layak karena kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan.

Benar atau salah nih?

Hal tersebut dikemukakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada gelaran Road to G20: Securitization Summit 2022 pada tanggal 13 Juli lalu.

Menurut beliau, generasi milenial sekarang sudah memasuki masanya untuk berkeluarga dan memiliki tempat tinggal sendiri.

Namun, karena harga properti yang beberapa tahun belakangan ini naik secara signifikan, membuat anak-anak muda sekarang tidak lagi memiliki buying power yang cukup kuat untuk mengimbangi kenaikan harga tersebut.

Nah, pada kesempatan ini, Willy Sanjaya dari KoinWorks dan Panca Satria dari Pinhome akan berdiskusi mengenai benar atau tidaknya pernyataan Menteri Keuangan tersebut; kesulitan apa yang sebenarnya dihadapi generasi dalam memiliki rumah, serta apa strategi yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hunian yang layak.


Kendala yang Dihadapi Generasi Milenial

Selain harga properti yang terus meningkat secara signifikan, beberapa faktor di bawah ini juga turut andil dalam memperkecil buying power generasi milenial untuk membeli rumah.

Perencanaan keuangan yang kurang baik

Kurangnya literasi keuangan di Indonesia menjadi salah satu faktor yang membuat generasi milenial kesulitan mengumpulkan tabungan atau modal.

Survei yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2019, menyebut hanya 38% orang Indonesia yang mengerti dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai produk keuangan yang mereka punya (meningkat 9% dari survei yang sama pada tahun 2016).

Hal ini membuktikan bahwa masih banyak orang yang belum memahami bagaimana cara terbaik mengelola keuangan sesuai kapasitas mereka masing-masing.

Karakter konsumtif

Kecenderungan generasi milenial dalam mengeluarkan uang untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif juga menjadi salah satu faktor kendala yang cukup besar.

Hal ini didukung juga oleh penggunaan media sosial yang secara erat memengaruhi pilihan gaya hidup para anak muda tersebut.

Sebut saja kebutuhan tersier seperti aksesori & pakaian branded terbaru, gadgets yang canggih, kebutuhan untuk nongkrong dan kebutuhan liburan telah bergeser menjadi kebutuhan sekunder, bahkan primer; dan membuat kesempatan menabung menjadi semakin kecil.

Sandwich generation

Generasi milenial (dan generasi Z setelahnya) juga berpotensi menjadi bagian dari sandwich generation, di mana sebagian beban keuangan keluarga juga ditanggung oleh mereka.

Nah, kalau ini dikarenakan perencanaan keuangan yang kurang baik dari generasi sebelumnya, yang akhirnya membebani general milenial.

Bahkan di beberapa kasus, orang tua dari generasi milenial dan generasi Z ini tidak memiliki rumah milik sendiri, alias masih menyewa tempat tinggal.

Alhasil, anak-anak muda tersebut tidak hanya harus menabung untuk masa depannya, tapi juga harus menyisihkan sebagian penghasilan untuk kehidupan orang tua dan anggota keluarga yang lain.

Budaya keluarga

Kendala yang terakhir dihadapi generasi milenial adalah budaya keluarga yang lebih memilih satu keluarga untuk tinggal berdekatan, seringkali dalam satu rumah besar, daripada harus tinggal terpisah di rumah masing-masing.

Hal ini membuat banyak generasi muda tidak terpikir untuk menabung, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk menyiapkan properti sendiri.

Biasanya, hal tersebut baru akan menjadi masalah ketika ada anggota keluarga yang memutuskan untuk memulai sebuah keluarga, dan terpaksa tetap tinggal di rumah tersebut karena tidak memiliki tabungan yang cukup untuk membeli rumah sendiri.


Strategi Mendapatkan Rumah Pertama

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, Willy Sanjaya dan Panca Satria mengutarakan beberapa cara yang bisa diterapkan oleh generasi milenial untuk mendapatkan properti pertama mereka.

Bagi anak muda yang baru mulai aktif bekerja dan memiliki penghasilan, sebaiknya mulai mencari properti di lingkungan perumahan yang baru dibangun.

Biasanya pihak developer akan gencar menawarkan properti-properti tersebut dengan banyak kemudahan, seperti DP yang bisa dicicil sesuai kemampuan, dan juga harga yang lebih murah.

Kemudian, hindari mencari rumah di tengah kota yang sudah pasti memiliki harga yang tinggi.

Carilah properti di pinggiran kota besar, yang wilayahnya juga berdekatan dengan sarana transportasi umum. Dengan begitu, akses menuju tempat kerja atau tempat lain tidak menjadi begitu sulit.

Bagaimana jika sudah berkeluarga, namun rumah belum siap huni?

Hal ini bisa diatasi dengan menyewa apartemen atau mengontrak rumah terlebih dahulu, sambil menyisihkan penghasilan untuk mulai menyicil DP atau KPR.

Carilah apartemen atau kontrakan yang tidak jauh dari tempat kerja, agar bisa berhemat lebih banyak.

Willy Sanjaya juga menjelaskan sebuah cara yang efisien untuk mengatur pemasukan bulanan, yaitu dengan metode 1-2-3-4; 10% gaji digunakan untuk berinvestasi dan tabungan pribadi, 20% untuk kebutuhan pribadi harian, 30% untuk hutang dan cicilan, serta 40% untuk kebutuhan keluarga.

Dengan begitu, anak-anak muda akan lebih mudah mengelola gaji mereka dan tidak perlu repot berpikir mengenai alokasi dana untuk tabungan dan untuk cicilan.

Panca Satria juga menambahkan bahwa e-commerce Pinhome bisa membantu generasi milenial untuk melakukan riset dan pencarian terlebih dahulu mengenai properti yang sesuai di wilayah yang diinginkan.

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di sini.


Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Properti?

Bagi generasi milenial yang memutuskan untuk membeli properti, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelumnya.

Kinerja dan legalitas pihak developer

Dalam membeli rumah pertama, terutama untuk properti yang masih belum dibangun, perlu ditelusuri terlebih dahulu track record dari perusahaan pengembang yang membangun proyek properti tersebut.

Apakah dikelola oleh perusahaan yang memiliki reputasi baik?

Apa sebelumnya pernah membangun proyek yang serupa?

Bagaimana dengan legalitasnya, apa sebelumnya pernah tersandung masalah?

Tidak sedikit perusahaan pengembang yang lalai dalam kewajibannya sehingga merugikan konsumen.

Pastikanlah bahwa developer yang membangun proyek perumahan tersebut adalah perusahaan yang memiliki track record dan kinerja yang baik, serta tidak pernah tersandung masalah sebelumnya.

Akses menuju properti

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan pula adalah akses jalan menuju properti.

Apakah akses masuk dan keluar dari lingkungan rumah ramai dan sering macet?

Bagaimana kondisi lalu lintas saat jam-jam sibuk? Apakah lingkungan rumah terlalu jauh dari akses tol, atau sarana transportasi umum?

Hal-hal tersebut patut dipertimbangkan dalam memilih lokasi rumah, karena menyangkut waktu, tenaga, dan biaya tambahan yang harus dikeluarkan nantinya.

Desain interior

Selanjutnya, hal yang perlu diperhatikan adalah desain interior.

Apakah sudah sesuai dengan selera konsumen, dan juga sesuai dengan yang diiklankan?

Bagaimana dengan penggunaan material bahan bangunan, apakah sesuai dengan harga dan perjanjian?

Keamanan

Faktor keamanan juga perlu diperhatikan.

Apakah lingkungan rumah dan sekitarnya cukup aman? Atau malah rawan terjadi aksi kriminalitas dan tawuran?

Tetapi, biasanya pihak developer telah memperhitungkan faktor ini, dan umumnya mereka akan hampir selalu membangun proyek di wilayah yang kondusif.

Banjir

Nah, hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah apakah lingkungan rumah dan sekitarnya rawan banjir ketika musim hujan.

Masalah ini seringkali dialami beberapa wilayah dalam suatu kota besar, misalnya seperti di Jakarta.

Perhatikanlah lokasi rumah dan sekitarnya saat hujan, apakah saluran air bekerja sesuai fungsinya, atau malah terjadi genangan di mana-mana.

Perhatikan juga kondisi akses jalan masuk dan keluar lingkungan, apakah terpengaruh dengan hujan atau tidak.


Kesimpulan

Pada akhirnya, apakah pernyataan Menteri Keuangan sebelumnya, mengenai generasi muda yang semakin sulit membeli properti itu, benar atau salah?

Faktanya, masih banyak kendala dan masalah yang dialami oleh generasi milenial dalam mengumpulkan modal untuk membeli properti pertama mereka.

Namun, menurut Panca Satria, sekarang ini sudah tersedia banyak cara untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.

Jadi, anak-anak muda tidak perlu khawatir berlebihan.

Sebaiknya, gunakan pernyataan tersebut sebagai sebuah bentuk motivasi agar bisa mengelola keuangan dengan lebih baik.

Selama ada niat, pasti ada jalan.

. . .

Itulah akhir dari event IG Live KoinWorks x Pinhome “Anak Muda Susah Beli Rumah, Bener Nggak Sih?” bersama Willy Sanjaya (Sr. Head of Financial Consultant dari KoinWorks) dan Panca Satria (Head of Agent Account Management dari Pinhome) pada 19 Juli 2022.

Sampai jumpa di event selanjutnya!

[Event Recap] KoinWorks x Pinhome: Anak Muda Susah Beli Rumah, Bener Nggak Sih?

Langganan via Email​

Dapatkan Tips dan Berita Keuangan Gratis di Inbox Anda​