Belajar Dari Kegagalan Situs Pertemanan Friendster

·
3 menit
failure - gagal - fail - gagal menuju kesuksesan

Mungkin tak banyak orang yang mengetahuinya jika dalam dunia bisnis marketing, terdapat pihak yang disebut sebagai competitor dan market leader. Disebut market leader karena mereka adalah pihak yang mampu menguasai sebagian besar dari pangsa pasar yang ada di tengah-tengah masyarakat dan competitor merupakan pesaing yang selalu berusaha untuk merebut pangsa pasar yang tengah dikuasai oleh market leader sekaligus berusaha untuk menggeser posisinya. Bisa dikatakan persaingan dan pertempuran dalam dunia bisnis itu sangat kejam. Meskipun bisnis disebut sebagai instrumen investasi jangka panjang yang menguntungkan, namun bila tak mampu bertahan, maka Anda akan langsung terdepak dari persaingan dan menerima kerugian besar. Dalam pertempuran bisnis, jenderal yang bertugas adalah mereka yang ahli dalam melakukan promosi atau membangun strategi pemasaran sementara senjatanya adalah branding atau alat marketingnya.

Pertempuran di dunia bisnis ini sangat banyak ditemukan di sekitar Anda. Sebagai contohnya adalah Honda yang tengah mati-matian berjuang untuk menahan gempuran dari Yamaha. Telkomsel yang juga bersaing untuk tetap bertahan di tengah-tengah munculnya berbagai macam provider lainnya namun ada pula yang menyerah kalah. Contoh nyatanya adalah Friendster yang akhirnya mengibarkan bendera putih pada Facebook. Jauh sebelum banyak ditemukan jejaring sosial yang bervariasi, Friendster muncul di sekitar tahun 2000an dan bisa dikatakan sebagai pelopor pertama situs pertemanan terbesar pada saat itu. Friendster sendiri menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dan mampu mengalahkan berbagai macam situs social networking yang sudah lebih dulu ada seperti Multiply dan MySpace. Perkembangan pesat ini dipengaruhi oleh satu faktor kemenangan yaitu adanya sebuah testimoni yang dapat ditulis di setiap profil pengguna.

Banyak orang pengguna Friendster yang ingin testimonial baik guna menciptakan citra yang baik pula dimana satu pengguna menuliskan testimoninya pada pengguna lain dengan memberikan banyak sekali pujian berlebihan sehingga orang yang membacanya mungkin akan senang atau bahkan tersenyum sendiri ketika dipuji oleh teman-temannya. Tetapi di balik kesuksesannya itu, masih ada beberapa hal yang membuat Friendster dinyatakan gagal untuk mengembangkan bisnisnya. Pihak pengelola Friendster tak mampu melakukan inovasi agar bisa bertahan sebagai leader. Intinya, apabila diibaratkan sebagai bisnis, produk yang dijual hanya itu-itu saja mulai dari blog, foto, hubungan dengan teman jarak jauh dan saling menukar testimoni. Kemudian kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Friendster adalah mengubah testimoni menjadi komentar. Foto yang ditampilkan tak istimewa, blognya pun lebih menggunakan engine bertipe Movable Type.

Selain itu, kegagalan lainnya adalah Friendster tak mampu membendung fake user dan spam. Pengguna sering mengeluh akan pesan berantai yang terdapat dalam kotak masuk mereka . Pesan itu juga berasal dari akun palsu yang hanya dipergunakan untuk mengirimkan spam sehingga hanya sedikit teman yang benar-benar dikenal dalam aplikasi itu. Halaman profil pengguna pun juga menjadi kesalahan dimana kekuatan Friendster sebelumnya adalah kebebasan pengguna untuk membentuk wajah pada halaman profil namun adanya fitur yang disebut customization membuat banyak pengguna bebas untuk mengubah atau memberikan desain yang jauh daripada kata nyaman dan penempatan iklan membuat sistem navigasinya terhambat dan loading pun lebih berat. Ketika Friendster masih berkutat dengan masalahnya, muncul era Facebook yang sedikit demi sedikit menggeser posisi Friendster.

Walaupun pada saat itu trafik yang terjadi masih lebih banyak Friendster, namun tren pengguna Facebook semakin banyak karena mereka mampu menawarkan berbagai macam hal yang segar dan baru dalam dunia jejaring sosial sehingga masyarakat langsung berbondong-bondong untuk mencobanya dan mendaftar menjadi anggota. Tak bisa dipungkiri jika Friendster lantas menjadi tren sesaat saja karena seperti perkembangan teknologi, fasilitas di dalamnya pun harus ikut berkembang agar mampu menciptakan keharmonisan sekaligus memenuhi kebutuhan dari masyarakat akan penggunaan internet yang tepat. Inoveasi merupakan hal terpenting dan tidak bisa dilepaskan begitu saja mengingat masyarakat memiliki sifat cepat bosan sehingga mereka harus selalu memperoleh sesuatu yang lebih segar. Akhirnya Friendster pun menyerah dan bukan lagi menjadi trendsetter sebab mereka sudah tergusur oleh competitor.

Anda bisa belajar dari kegagalan Friendster itu dan menyadari akan pentingnya inovasi dalam melakukan bisnis apapun supaya usaha yang Anda lakukan menjadi instrumen investasi yang menguntungkan dalam jangka panjang.

Langganan via Email​

Dapatkan Tips dan Berita Keuangan Gratis di Inbox Anda​

Super Financial App yang
membawamu #MelangkahLebih