Restoran adalah bisnis yang ga ada matinye.  Hampir di setiap sudut-sudut gang kecil menyempil restoran “versi kecil” alias warung makan. Sementara di jalan-jalan protokol atau jalan besar, sering kita jumpai berbagai macam rumah makan dengan menu andalannya masing-masing. Ada yang khusus menjual sate, ada yang spesial bakso, ada yang hanya memasak bubur, ada yang berkonsep daerah (rumah makan Padang, coto Makssar), berkonsep tempat hiburan (kafe), dan sebagainya. Dan rata-rata restoran khas memiliki pengunjung loyal. Mereka tidak saja mencari menu yang lezat, namun juga kenyamanan dalam menikmati suasana.

Karena makanan adalah produk yang tidak pernah basi untuk dijadikan komoditas bisnis, tidak heran kalau banyak orang yang ingin terjun ke bisnis ini. Dengan bermodalkan kemampuan memasak dan meracik bumbu, mereka “nekat” membuka rumah makan dengan mengusung merek sendiri. Ada yang berhasil di tahun pertama, namun ada yang gagal hanya dalam waktu beberapa bulan. Ada yang stabil hingga lima tahun sejak beroperasi, namun bangkrut di tahun keenam. Ada yang mulus ketika masih hanya satu cabang, tapi ada juga yang merugi saat punya beberapa cabang. Padahal bisnis restoran sebagaimana bisnis lain pada umumnya tidak saja butuh keterampilan teknis, tapi juga kemampuan manajerial. Inilah yang belum dimiliki secara optimal oleh mereka yang masih newbie di bisnis ini. Ada yang menganggap kegagalannya disebabkan karena kurang modal, lalu mereka pun mengajukan pinjaman kepada kerabat dekat atau bank. Padahal pengertian pinjaman modal itu sendiri  adalah investasi yang harus dikembalikan lengkap dengan keuntungannya, bukan sekedar pinjaman uang sukarela yang bisa dikembalikan kapan saja. Akibatnya, pengelola tidak mempertimbangkan berbagai faktor kecuali hanya beranggapan bahwa restorannya butuh suntikan modal.

Apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum membuka restoran? Pertama, tentu saja menu yang akan menjadi andalan rumah makan Anda. Apakah Anda ingin mengangkat makanan khusus? Contohnya soto Betawi, lontong Medan, bebek bakar, ayam bakar, dan sebagainya. Pastikan kalau Anda memang memiliki kekhasan dalam hal bumbu dapurnya. Kalau pun tidak ada yang khas alias rasanya sama saja, bermainlah di syarat kedua, yaitu konsep. Apa konsep restoran Anda? Kafe? Lounge? Atmosfer daerah seperti restoran Sunda?  Retro yang mengangkat desain era 70an?  Apapun itu, pastikan konsepnya unik dan tidak ada di restoran lain di sekitar Anda. Tentunya harus dipertimbangkan juga faktor perilaku target pasar Anda. Kalau mereka adalah tipe konsumen yang hanya ingin makan lalu pergi lagi, tidak perlu repot-repot menciptakan konsep restoran sebagai tempat hang out. Biasanya konsep seperti ini cocok untuk di kawasan yang dekat dengan perkantoran.

Ketiga adalah juru masak. Sebenarnya Anda tidak perlu harus jago masak untuk membuat restoran. Banyak koki-koki profesional yang tidak terjun ke bisnis kuliner ini padahal mereka sangat piawai dalam membuat menu yang bisa bikin lidah bergoyang. Sementara itu, banyak juga yang tidak pintar masak, tidak punya pengalaman di industri kuliner namun membuka rumah makan sendiri. Rahasianya adalah mereka berhasil menemukan koki yang hebat yang mau bekerja untuk mereka. Konsep dibuat oleh pemiliknya, sistem kerja dirumuskan oleh pemiliknya juga, pengatuaran sumber daya manusia pun dikelola oleh pemiliknya. Sementara bagian lapangan atau teknis diserahkan kepada ahlinya.

Keempat, Anda harus menyiapkan penyuplai untuk bahan mentah masakan. Carilah produsen daging, ayam, telur dan sebagainya. Ambil contoh Kentucky Fried Chicken. Restoran ayam asal Amerika ini mengambil ayamnya justru di pesantren-pesantren yang memang khusus memiliki unit usaha peternakan ayam sehingga meskipun setiap hari pembelinya banyak, tidak sampai membuat restoran yang didirikan oleh Kolonel Sanders ini kehabisan stok ayam mentah. Demikian juga dengan Anda. Carilah penyuplai yang bisa memasok kebutuhan Anda setiap hari tanpa putus. Bahkan untuk pemasok ikan lele saja sampai saat ini masih kekurangan untuk di daerah Jakarta. Minat masyarakat mengkonsumsi ikan “jorok” ini sangat tinggi, sementara ketersediaan terbatas.

Kelima, adalah pinjaman modal.  Jangan sampai pengertian pinjaman sebagai modal bantuan yang harus dikembalikan salah persepsi. Anda harus mengolah modal tersebut dengan benar sehingga menghasilkan profit untuk investor juga.  Carilah pinjaman di KoinWorks. Sebagai platform P2P, Anda berpeluang mendapatkan suntikan modal dari investor yang tertarik dengan konsep Anda.


Simulasi Pinjaman Modal Usaha

Jumlah Pinjaman

Suku Bunga/Tahun (% APR)

Jangka Waktu (Tahun)


Hasil
Bunga Pinjaman
Pokok + Bunga

Cicilan Bulanan:

Syarat Pengajuan Pinjaman di KoinWorks


Download Aplikasi KoinWorks

apple app store iosgoogle play store android app

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.