Home » Blog » Daily, Gaya Hidup, Investasi & Keuangan Pribadi » Inflasi: Pengertian, Cara Menghitung, Penyebab, dan Dampaknya

Inflasi: Pengertian, Cara Menghitung, Penyebab, dan Dampaknya

·
4 menit
Mata uang rupiah Indonesia

Ketika kamu mendengar kata inflasi, kamu pasti langsung ingat peristiwa krisis moneter dan kerusuhan pada tahun 1998 ataupun krisis keuangan global pada 2008 silam.

Kamu pasti mengaitkannya dengan kenaikan harga barang-barang pokok.

Selain itu, kamu juga menghubungkan jatuhnya nilai rupiah terhadap mata uang asing. 

Kamu tidak salah jika memikirkan hal tersebut. Inflasi memang berkaitan erat dengan guncangan situasi ekonomi baik mikro maupun dalam skala nasional.

Namun, hal tersebut tentu lebih luas dari pada sekedar kenaikan harga dan nilai mata uang.

Beberapa hal bisa memicu terjadinya inflasi.


Pengertian Inflasi

Menurut Bank Indonesia, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus.

Dalam inflasi, kekuatan membeli kesatuan moneter menurun dalam masa tertentu, yang berlangsung secara terus menerus secara bertahap.

Ahli berkata bahwa inflasi telah muncul biasanya terindikasi apabila unsur nilai uang yang didepositokan beredar lebih banyak daripada jumlah barang maupun jasam yang kemudian ditawarkan yang mengakibatkan nilai dari mata uang yang beredar tersebut jatuh dan/atau tidak bernilai lagi. 

Untuk memahaminya dengan sederhana, kata kunci “keseimbangan ekonomi” dapat membantu kamu untuk memetakan konsep inflasi yang abstrak dan luas lebih rasional. 

Mudahnya, inflasi dapat kamu analogikan dengan perumpamaan sederhana, yakni ketika suatu barang yang kamu miliki tadinya sangat bernilai karena segelintir orang saja yang memiliki jumlah barang tersebut.

Inflasi kemudian menjadi sangat tidak berharga akibat secara tiba-tiba dan berangsur barang tersebut dapat dimiliki oleh semua orang dengan mudah.


Cara Menghitung

Dalam hal inflasi yang diakibatkan oleh peredaran mata uang yang tidak seimbang.

Barang yang kamu miliki dalam analogi tadi adalah perumpamaan nilai mata uang yang seharusnya beredar secara proporsional dan sebanding dengan besaran aset negara yang kemudian menjadi dasar nilai mata uang itu sendiri (underlying assets).

Dalam menghitung atau mengukur laju dapat digunakan rumus sebagai berikut:

Rumus menghitung inflasi

Merujuk hasil perhitungan rumus di atas, nantinya inflasi dapat dikategorikan menjadi inflasi ringan (<10%), inflasi sedang (10%-30%), inflasi berat (30%-100%), hiperinflasi (>100%).


Penyebab Inflasi

Inflasi ekonomi secara umum tidak hanya terkait pada ketidakseimbangan antara peredaran mata uang dengan penawaran barang dan jasa.

Terdapat setidaknya 3 penyebab inflasi lainya yang paling umum dan sering menjadi sorotan sebagai pemicu terjadinya inflasi.

Tiga penyebab tersebut antara lain:

  • Inflasi yang disebabkan oleh permintaan yang tinggi (Demand Pull Inflation),
  • Inflasi yang disebabkan oleh melonjaknya biaya produksi suatu barang (Cost Push Inflation),
  • Inflasi struktural.

Ketiga jenis inflasi tersebut sangat berkaitan pada tingkat peredaran barang atau jasa.

Terutama terhadap Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation, akibat ketidakseimbangan tingkat peredaran barang atau jasa terhadap besaran jumlah permintaan pasar akan mengakibatkan lonjakan harga yang melaju tajam sebagaimana hukum ekonomi permintaan dan penawaran akan berbanding terbalik satu sama lain.

Hal itu berbeda dengan inflasi struktural yang diakibatkan oleh inelastisitas ekspor dan pasokan persediaan barang pokok dalam negeri yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama dan tidak dapat dikontrol. 

Bukan hanya karena tingginya permintaan namun secara struktural akibat komoditas ekspor tidak responsif terhadap pasar dunia.

Inflasi struktural ini pernah  melanda negara-negara Amerika Latin pada kisaran tahun 1960-an silam.


Dampak Inflasi

Kemudian, kamu pasti bertanya mengapa hal tersebut dapat mengakibatkan barang-barang menjadi mahal dan membawa dampak buruk bagi perekonomian nasional?

Tentu saja jawabannya adalah karena dengan turun atau tidak bernilainya suatu mata uang. 

Hal itu mengakibatkan harga-harga baik barang dan jasa akan berangsur naik atau melonjak karena berusaha mengimbangi satuan nilai yang proporsional dengan nilai barang atau jasa terhadap mata uang yang melemah.

Oleh karena itu, dalam konteks Indonesia yang merupakan sebuah negara penganut sistem ekonomi welfare-state, atau negara yang ikut turun tangan dalam perekonomian dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan ekonomi rakyatnya, negara harus dapat menjaga stabilitas permintaan dan penawaran antara barang/jasa dengan tingkat peredaran uang. 

Oleh karena itulah, Indonesia memiliki suatu Bank sentral, yaitu Bank Indonesia sebagai upaya pemerintah untuk dapat memonopoli perekonomian negara, termasuk di dalamnya tingkat peredaran mata uang.

Bank Indonesia sebagai Bank Sentral juga berperan menghindarkan Indonesia dari inflasi secara umum dapat dihindarkan, yakni dengan mengendalikan atau memonopoli ekonomi nasional secara positif dengan tujuan untuk menjaga kestabilan dan elastisitas ekonomi suatu negara.


Salah Kaprah Inflasi

Dalam hal ini, kenaikan dollar sebagai dampak inflasi sering dibahas.

Namun, ternyata hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar, karena terdapat beberapa unsur lain yang harus terpenuhi.

Kamu pasti sering mendengar istilah pasar uang maupun pasar modal. 

Pada dasarnya, uang yang kamu miliki merupakan surat berharga sekaligus menjadi bukti bahwa kamu memiliki sejumlah nilai atas sebuah underlying assets yang dijamin dan diinterpretasikan negara kedalam sebuah nominal satuan mata uang.

Karena uang sebagai surat berharga tersebut memiliki nilai ekonomis, secara tidak langsung maupun langsung, pasar uang memperdagangkan uang.

Itulah mengapa seringkali ketika kamu melewati sebuah money changer kamu melihat kurs jual dan kurs beli.

Aset tidak semata-mata mempengaruhi nilai jual dan beli mata uang. 

Faktor eksternal ekonomi seperti situasi politik, kerusuhan massal, bencana alam, dan sebagainya, turut bisa memacu terjadinya inflasi, mengacu kepada sentimen pasar yang disinyalir sebagai penyebab inflasi. 

Tidak semata-mata seluruh lonjakan harga dan jatuhnya nilai mata uang akibat sentimen pasar dapat dikatakan sebagai sebuah inflasi, inflasi pada dasarnya juga harus memenuhi unsur keberlanjutan dan berlangsung dalam satuan waktu yang tidak pendek.


Meski keberadaan BI sudah cukup membuat nafasmu sedikit lega, namun, penting bagi para pengusaha maupun seluruh rakyat secara luas, terutama yang memiliki penghasilan tinggi dan kepemilikan aset yang besar, untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam mengelola dan menyimpan asetnya. 

Apalagi, jika aset yang kamu miliki hanya berbentuk uang.

Ada baiknya juga bila kamu mempertimbangkan instrumen investasi aset lainnya yang lebih aman seperti emas, tanah, investasi lewat instrumen investasi non-fisik seperti reksadana, saham, Peer to Peer Lending, ataupun aset dalam bentuk lainnya. 

Agar apabila kemungkinan terburuknya terjadi inflasi asetmu tidak secara tiba-tiba tergerus nilainya bahkan raib begitu saja oleh adanya fenomena inflasi. 

Semoga artikel ini membantu, ya!

Friska
Ketika banyak orang membutuhkan panduan dalam menyelesaikan masalah keuangan yang mereka hadapi, mereka sering mengalami kesulitan dalam mencari sumber/ saran terbaik. Karena itulah tulisan melalui artikel adalah hal yang menjadi passion bagiku karena akan membantu banyak orang yang mengalami kesulitan-kesulitan tersebut.

Langganan via Email​

Dapatkan Tips dan Berita Keuangan Gratis di Inbox Anda​