Mengenal Sejarah Investasi Pasar Modal – Apa yang terpikirkan pertama kali saat mendengar pasar modal? Biasanya asosiasi orang langsung kepada saham.  Tidak salah, karena memang pasar modal adalah kumpulan transaksi tentang saham.

Di sini seseorang bisa menjual dan membeli saham-saham yang dianggap menguntungkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Yang disebut jangka pendek itu bisa dalam hitungan minggu, hari atau bahkan jam.

Baca Juga: Dari 5 Jenis Investasi Populer yang Ada di Indonesia, Anda Pilih yang Mana?

Saham yang nilainya naik secara agresif dalam hitungan jam bisa dibeli sekaligus di jual di hari itu juga.  Di Indonesia, sejarah investasi pasar modal berawal dari berdirinya Bursa Efek Surabaya dan Bursa Efek Jakarta. Keduanya lalu dimerger menjadi Bursa Efek Indonesia.

Mengenal Sejarah Investasi Pasar Modal

Dalam sejarah perkembangannya, Bursa Efek Jakarta pertama kali resmi beroperasi pada masa kolonial Belanda, tepatnya 14 Desember 1912. Sebagaimana namanya, BEJ didirikan di Batavia (nama Jakarta di masa lampau).

Saat itu nama BEJ adalah Call-Efek. Istilah “Efek” merujuk pada nama saham, sedangkan “Call” merujuk pada pimpinan (pialang) yang terus-menerus menyerukan harga seperti lelang. Ketika ada kecocokan harga jual dan beli, terjadilah transaksi. Saat itu BEJ hanya memiliki 13 perantara pedagang efek (makelar).

Baca Juga: Apa Itu Efek Compounding Dalam Investasi dan Seperti Apa Manfaatnya?

Berdirinya bursa perdagangan pasar modal di zaman tersebut sebenarnya lebih dikarenakan kebutuhan yang bersifat demand- following. Para investor dan perantara pedagang saham merasakan perlunya suatu bursa di Jakarta untuk memudahkan transaksi karena kebutuhannya sudah sangat mendesak.

Bangsa Indonesia saat itu belum mengetahui tentang bursa efek, sementara orang-orang Belanda sendiri sudah lebih dari tiga abad mengenal investasi saham. Terdapat kesenjangan antara pengetahuan bangsa Eropa dengan masyarakat Indonesia dari sisi lamanya waktu dalam mengenal investasi.

Indonesia baru merdeka 71 tahun, maka wajar apabila investasi pasar modal belum begitu memasyarakat. Keberadaan bursa efek tersebut memungkinkan para investor Belanda tersebut menanamkan dananya ke berbagai aneka saham.

Baca Juga: Tips Mempersiapkan Biaya Pendidikan Anak Dengan Investasi

Saat itu baru ada 30 depository receipt (seperti sertifikat) yang terdiri dari perusahaan luar,s eperti Amerika, Kanada, Belanda, Prancis dan Belgia. Indonesia belum memiliki perusahaan yang go public di zaman ini.

Pada masa perang dunia pertama, Bursa Efek Jakarta ini sempat ditutup karena pemerintah kolonial terlibat di dalam perang tersebut. Kemudian setelah  dibuka lagi tahun 1925, Belanda lalu membuka lagi bursa di Surabaya dan Semarang.

Baca Juga: Permudah Diversifikasi Portofolio Investasi Anda dengan 5 Langkah Penting Berikut

Sayangnya, saat Jepang masuk ke Asia, khususnya ke Indonesia, pemerntah Belanda kalah perang dan terusir dari Batavia. Bursa efek tersebut pun akhirnya berhenti kembali operasionalnya.

Kali ini, durasi ketidakaktifannya cukup lama yaitu lebih dari satu dekade karena Belanda dan Jepang sama-sama terlibat di perang dunia kedua. Setelah usai perang, tahun 1952 kembali dibuka dengan memperdagangkan saham dan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan Belanda.

Baca Juga; Begini Trik Mempersiapkan Biaya Pernikahan Dengan Investasi

Kemudian untuk menghormati kedaulatan Indonesia yang sudah merdeka dan diakui secara resmi oleh Belanda di tahun 1949, maka bursa efek buatan kolonial pun akhirnya resmi dinasionalisasikan tahun 1958.

Pada tahun 1977, Bursa Efek Jakarta secara resmi dibuka dan ditandatangani oleh Bapepam, sebuah Badan Pelaksana pasar Modal yang dibuat oleh Departemen Keuangan.  Sifat awal demand-following menjadi supply-leading.

Seiring dengan berkembangnya sektor swasta akibat dampak dari pertumbuhan ekonomi nasional yang positif, kapitalisasi pasar saham pun juga turut meningkat. Puncaknya adalah tahun 1990.

Baca Juga: Investor Aktif vs Investor Pasif: Investor Tipe Manakah Anda?

Di tahun 1991, bursa saham yang sebelumnya dimiliki oleh pemerintah akhirnya diswastanisasi sehingga menjadi PT. Bursa Efek Jakarta.  Dampaknya, Bapepam yang tadinya pelaksana kini berubah menjadi pengawas.

Tahun 2001 BEJ mulai memperkenalkan perdagangan jarak jauh (remote trading) agar akses pasar semakin terbuka, termasuk juga kecepatan dan frekuensi perdagangannya.

Lalu di tahun 2007, mulailah sejarah baru pasar modal di Indonesia dengan bergabungnya Bursa Efek Surabaya dengan BEJ menjadi Bursa Efek Indonesia. Sebagai pasar modal di negara berkembang, BEI berhasil mendapatkan penghargaan dua kali sebagai The Best Stock Exchange of the Year in Southeast Asia”.

Baca Juga: 5 Kesalahan Investasi yang Sering Dilakukan Investor dan Harus Segera Dihindari

Untuk bisa bertransaksi di BEI, Anda harus melalui perusahaan broker yang menjadi perantara untuk perdagangan saham di dalamnya. Selain itu, juga perlu mempelajari kondisi fundamental perusahaan yang ter-listing di sana agar Anda tidak salah dalam memilih saham sebagai portofolio investasi Anda.




There are currently no comments.

Apa Komentar Anda?