Mencari Kredit Mikro dari Peer to Peer Lending

·
3 menit
skema kerja peer to peer lending koinworks

Pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia cukup menggembirakan. Diprediksi tahun ini angka orang yang melek internet meningkat hingga 30 persen alias sekitar 70 juta penduduk. Belum lagi apabila balon Google jadi melayang di berbagai titik di seluruh Indonesia yang membuat masyarakat bisa mengakses internet dengan lebih cepat. Selain itu, meningkatnya pengguna internet diiringi pula dengan semakin banyaknya orang yang memanfaatkan media ini sebagai wadah promosi. Tidak heran bila di ranah-ranah sosial media sudah begitu banyak pengusaha yang memasarkan produk-produknya. Apalagi biaya internet marketing jauh lebih rendah daripada pemasaran konvensional.

Salah satu dampak pertumbuhan tersebut adalah mulai dikenalnya istilah peer to peer lending (P2P lending) yang merupakan sumber lain untuk mendapatkan modal usaha. Seperti yang diketahui, pertumbuhan pengusaha kecil di Indonesia juga cukup baik meski masih di bawah angka minimum dua persen. Banyaknya bank-bank yang menyalurkan kredit mikro juga patut diapresiasi. Sayangnya, tidak banyak pengusaha UKM yang menyadari hal ini atau tidak terlalu ingin terlibat dengan pihak bank. Alasan mereka bermacam-macam, mulai dari proses pengajuannya yang berbelit-belit, butuh waktu yang tidak sebentar, bunga yang cukup memberatkan, hingga tagihan yang tidak bisa dikompromistis. Mereka, para pelaku usaha mikro ini lebih memilih pinjam pada “bank keliling” atau rentenir. Selain prosesnya tidak ribet, pencairannya pun cepat. Kekurangannya adalah bunganya yang relatif sangat tinggi dan membuat para peminjam tercekik bunga berbunga.

Konsep peer to peer lending merupakan solusi atas persoalan ini, khususnya bagi mereka yang sudah mulai melek internet. Meminjam dana atau mencari investor di platform ini tidaklah sesulit di bank, meski juga tidak semudah di bank keliling. Platform yang cukup populer asli buatan dalam negeri adalah KoinWorks. Di sini pelaku usaha kecil dan menengah bisa mencari kredit mikro dengan sistem bunga atau bagi hasil yang cukup bersahabat. Tidak perlu khawatir akan dikejar-kejar debt collector  karena keterlambatan. Bahkan pebisnis kecil ini juga bisa mendapatkan tambahan investasi apabila investasi sebelumnya dapat dipertanggungjawabkan.

Model crowdsourcing sebenarnya sudah dikenal di Indonesia beberapa tahun terakhir. Konseptor bisa mempublikasikan kegiatan atau bisnis yang ingin dibiayai dengan menggunakan platform tersebut.  Jika pada akhirnya dana yang terkumpul tidak mencapai target, maka pengelola platform bisa membatalkannya (tergantung berapa persen yang sudah terkumpul dari target yang dicanangkan). Demikian pula sebaliknya bagi seorang investor yang punya dana lebih untuk berinvestasi. Ia bisa memilih berbagai macam profil dan konsep usaha yang dipublikasikan di KoinWorks untuk dipilih. Semakin kuat konsepnya, semakin besar potensi dibiayai.

Bagi pelaku usaha, dalam mengajukan proposal penawaran harus jelas mencantumkan siapa target pasarnya secara spesifik (pekerjaan, umur, orientasi hidup dll). Jika mereka tidak tahu siapa yang menjadi sasarannya, bagaimana investor bisa mempercayainya? Apalagi kalau pangsa pasarnya sudah penuh. Misalnya busana muslim yang memang pemainnya sudah banyak. Kalau pelaku usaha tidak mampu memetakan  target konsumennya secara lebih spesifik, bagaimana bisa meyakinkan investor kalau bisnisnya menguntungkan?

Selain target audiens, perjelas juga konsep bisnisnya. Apakah business to consumer (B2C), business to business (B2B), atau consumer to consumer (C2C). Setiap konsep memiliki konsekuensi dan potensi keuntungan yang berbeda-beda. Jangan sampai pemilik usaha tidak paham mengenai konsep usahanya sehingga terkesan hanya ingin mencari dana segar saja dari platform KoinWorks. Apalagi kalau umur perusahaan tersebut masih muda.

Berikutnya adalah tim manajemen. Tunjukkan bahwa Anda, sebagai pemilik usaha, memiliki tim kerja yang mumpuni di bidangnya. Para profesional yang sudah malang melintang di bidang yang sama. Jangan hanya menunjukkan diri sendiri (one man show) karena investor tidak tertarik berinvestasi pada bisnis yang hanya dikelola oleh perorangan. Jangan lupa untuk menunjukkan pengalaman pribadi pendiri usaha karena sangat berpengaruh terhadap minat orang dalam berinvestasi.

Dan yang terakhir jangan lupa untuk meminta rekomendasi dari pengusaha-pengusaha lain yang sudah terkenal. Mintalah mereka memberikan testimoni mengapa profil pendiri ini bisa dipercaya. Atau bisa juga dengan meminta kepada konsumen yang sudah merasakan kepuasan terhadap layanan dan produk Anda. Keep it struggling!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar

Langganan via Email​

Dapatkan Tips dan Berita Keuangan Gratis di Inbox Anda​

Super Financial App yang
membawamu #MelangkahLebih