Home » Strategi Bisnis » Bisnis Semakin Dipercaya Karena Selalu Bayar Tagihan Tepat Waktu

Bisnis Semakin Dipercaya Karena Selalu Bayar Tagihan Tepat Waktu

Sebagai orang yang belum lama memiliki usaha, saya menemukan banyak hal yang harus saya pelajari. Setiap hari, saya mendapatkan tantangan yang berbeda, masalah yang datang pun beragam. Ditambah lagi, dalam satu waktu saya bisa mengalami beberapa masalah sekaligus, lebih dari satu. Saya harus bisa memilah-milah dan membuat skala prioritas serta mencari solusi untuk menyelesaikan masalah yang saya hadapi.

Selama menjalani usaha berjualan baju secara online selama dua tahun terakhir ini, saya menyadari bahwa ada banyak hal yang nggak pernah diajarkan di sekolah sebelumnya, baik di sekolah dasar, menengah, hingga ketika saya kuliah di perguruan tinggi. 

Selain hard skills yang bisa dipelajari, saya juga harus bisa luwes dalam berinteraksi dengan banyak orang, mulai dari orang-orang yang bekerja bersama saya, suppliers, pelanggan atau konsumen, hingga pihak pemerintahan untuk mengurus perizinan. 

Saya merasa beruntung karena saya merupakan orang yang extrovert, jadi saya merasa nggak punya masalah berarti ketika berkomunikasi dengan orang lain. Tapi, soft skills seperti ini nggak hanya bisa diasah melalui baca buku, ikut kursus, atau menonton video di youtube. Saya harus mengalaminya sendiri, dan segala masalah yang timbul, harus saya selesaikan sendiri dan mencari solusinya.

Pentingnya Menjaga Relasi yang Baik Sebagai Pelaku Bisnis

Sebagai pemilik bisnis, hubungan yang baik dengan vendor penting untuk dijaga demi keberlangsungan bisnis. Saya teringat satu pengalaman yang secara tidak langsung mengajarkan saya bagaimana menjaga hubungan baik dengan vendor-vendor saya, terutama suppliers. 

Sekitar bulan Maret tahun 2020, saya mulai mencoba peruntungan dengan membuka bisnis berjualan pakaian secara kecil-kecilan. Karena tinggal di sebuah kabupaten di Jawa Barat, tidak semua department store tersedia di tempat saya tinggal. Sebelumnya, saya merupakan karyawan swasta di sebuah perusahaan di Jakarta, dan saat itu saya merasa sudah cukup menjadi karyawan, dan ingin menjajal tantangan lain menjadi pengusaha di tempat tinggal saya. Berbekal tabungan yang saya yakini cukup, pulanglah saya ke tempat saya tinggal.

Little did I know, bulan Maret tahun 2020 mengubah hidup banyak orang, bahkan di seluruh dunia. Mulainya pandemi covid-19 mengharuskan semua orang beradaptasi kembali dengan situasi dan kondisi yang membatasi pergerakan kita, dan memutar otak untuk mempertahankan hidup. Saya pastinya khawatir dong. Saya bertanya-tanya, bisa nggak ya, saya merintis usaha di tengah-tengah shifting global ini dan bertahan?

Usaha yang saya jalani bergerak di bidang fashion, di mana saya memulainya dengan membuka akun media sosial sebagai lapak berjualan. Saya mencomot gaya-gaya fashion dari artis-artis dalam maupun luar negeri, atau influencers lokal. Kemudian, saya mencari-cari padanannya dari toko-toko maupun butik dalam negeri, terutama di kota besar seperti Jakarta dan Bandung, yang tidak ada di tempat saya tinggal. Konsep yang saya tawarkan adalah steal the style dari orang-orang terkenal.

Memang pakaian-pakaian dan aksesorisnya saya padu-padankan dan beli sendiri, namun saya juga tetap butuh suppliers penyedia pita label untuk merek toko saya, kotak kardus untuk packaging, tali rafia kecil untuk membungkus, hingga vendor pembuat kartu ucapan sebagai greetings yang akan saya sisipkan di dalam paketnya.

Mulai dari hanya satu orderan per hari, dalam waktu kurang lebih tiga bulan, usaha saya mulai mengalami titik terang. Awalnya rasanya memang terseok-seok sekali. Hampir semua orang sepertinya mengalihkan prioritasnya. Mereka yang tadinya sangat bergairah dalam berbelanja pakaian, kemudian membatasi konsumsinya pada fashion. Dan hal ini terjadi tepat saat saya memulai usaha berjualan pakaian. Ooooh, betapa sedihnya. Tabungan saya pun mulai menipis karena saya menggunakannya untuk memutar usaha kecil-kecilan ini.

Beberapa bulan setelah memulai usaha, saya mulai mendapatkan sekitar 10-20 order per hari, sehingga saya mulai kewalahan mengurus usaha sendiri. Saya pun mengontak beberapa mantan rekan kerja di perusahaan sebelumnya, untuk menjadi partner jastip saya di Jakarta. Saya juga mulai menjalin hubungan dengan vendor-vendor supply saya. Sedikit demi sedikit, saya mulai bisa memperbaiki time management saya.

Suatu hari, entah karena kelelahan atau keteteran menghadapi pesanan pelanggan dengan tim yang amat minimalis –karena packing dan administrasi pun masih saya urus sendiri, saya kelupaan membayar tagihan vendor packaging saya dengan nilai yang cukup lumayan. Memang, pada saat itu, tagihan yang saya lupa bayarkan hanya satu buah, namun karena coverage-nya mencakup produksi saya sebulan, saya belum sempat merekap hasil penjualan saya.

Pantas saja, di akhir bulan itu, saya agak dijutekin oleh supplier saya. Saya yang sedang banyak pikiran, tidak terlalu ambil pusing, karena toh kami sama-sama pengusaha, jadi mungkin sama-sama sibuk.

Saya baru menyadari kesalahan saya ini ketika melakukan rekonsiliasi toko di awal bulan berikutnya.

“Loh, kok uang masih sisa ya? Yang ini kenapa selisih?”, pikir saya.

Setelah saya cari-cari, ternyata saya terlewat membayar 1x tagihan vendor saya itu. Aduh, rasanya bersalah sekali. Sebagai sesama pengusaha, saya tahu dan paham bagaimana rasanya seret. Tanpa ba-bi-bu lagi, saya langsung mengirim teks dan menelepon vendor saya, meminta maaf, dan mentransfer uang sejumlah tagihan yang terlewat. Saya sempat menawarkan memberikan satu paket dagangan saya sebagai bentuk kompensasi namun ditolak.

Saya sempat bertanya-tanya, kenapa saya tidak ditegur? Tapi mungkin ia mengerti bahwa di masa pandemi ini, kami semua sedang berusaha, semuanya struggling untuk bertahan mencari uang. Mungkin ia kesal, namun tidak tega juga menagih saya. Apalagi baru pertama kali saya lupa membayar tagihan.

Saat kamu membaca tulisan ini, mungkin kamu merasa kalau saya lebay dan agak membesar-besarkan masalah. Tapi benar, hal kecil itu terasa cukup menohok saya, terlebih karena saya paham bagaimana sulitnya menjalankan usaha sendiri dengan konsisten. Tidak seperti kerja di perusahaan yang memiliki hari libur di Sabtu-Minggu, saya nggak punya hari libur. Sabtu-Minggu dan hari libur lainnya pun saya tetap harus memutar otak dan tenaga demi kelangsungan hidup toko saya.


Tak Ada Lagi Kata Telat Membayar Vendor

Dari kejadian itu, saya mulai mencari-cari cara bagaimana supaya saya nggak lupa lagi membayar tagihan ke vendor. Meskipun bisa mencatat di buku ataupun memasang reminder di smartphone, saya tetap khawatir terlewat. Saya nggak bisa mengambil risiko tidak dipercaya kembali oleh vendor-vendor saya di masa depan.

Akhirnya, saya berkenalan dengan beberapa fitur transaksi keuangan yang dimiliki perbankan, baik yang BUMN maupun yang swasta, baik yang konvensional, syariah, maupun digital. Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk menggunakan KoinWorks NEO. Sewaktu research, saya melihat bahwa KoinWorks NEO ini memang dibuat untuk memudahkan transaksi, salah satunya online sellers. Memang sih, yang lain juga punya fitur yang mirip, tapi saya terpancing dengan KoinWorks NEO yang secara spesifik menyebutkan segmentasi itu. Wah, kok rasanya menarik.

Yang paling bikin saya tertarik tuh ada fitur Payment Link, di mana saya bisa membuat link pembayaran sendiri, kemudian bisa membuat invoice yang bisa saya share langsung melalui aplikasi chatting, SMS, atau email. Yang paling bikin saya happy, ada fitur pengingat untuk pembayaran. Kalau ingat pengalaman saya yang saya ceritakan tadi, fitur ini akan sangat terpakai. Selain itu, saya juga bisa menjadwalkan transaksi atau transfer dana. Wah, ya sudah. KoinWorks NEO ini sudah cukup banget membantu saya berdagang.

KoinWorks NEO masih punya banyak fitur lainnya, namun yang paling membuat saya memutuskan untuk membuka akun di sana adalah karena memang KoinWorks NEO ini sepertinya fokus untuk membantu pengusaha seperti saya, dan mudah digunakan. Saya nggak perlu berlama-lama, hanya perlu download aplikasi KoinWorks, daftar NEO, kemudian menyiapkan KTP dan selfie.

Tentu saja saya pun sempat khawatir kalau sudah berkaitan dengan aplikasi keuangan. Tapi, ketika saya browsing, KoinWorks NEO ini sudah terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan), kok. Bisa dicek juga dari situs OJKnya. Saya juga nggak serta merta menggunakannya dengan nominal transaksi yang besar, namun sedikit demi sedikit. Lama kelamaan, ternyata memang nyaman rasanya bertransaksi di sini.

Dalam menjalankan usaha, terutama di zaman modern seperti saat ini, saya rasa memang sudah saatnya kita membuka mata terhadap cepatnya teknologi berkembang. Beberapa tahun lalu, mana mungkin saya terbayang bisa punya usaha sendiri meskipun masih kecil, dan bisa merapikan administrasi keuangan saya hanya dengan download aplikasi di smartphone? 

Saya bercita-cita untuk mengembangkan usaha saya, tentu saja. Rencananya, beberapa bulan lagi saya akan mempekerjakan 1-2 orang admin lagi, untuk membantu saya. Belum tentu kan, admin yang saya pekerjakan, bisa langsung mengerti bagaimana cara menggunakan KoinWorks NEO? Saya juga memikirkan hal ini ketika research dalam pencarian financial technology dulu. Saya pun harus mencari aplikasi yang mudah digunakan dan diajarkan kepada orang lain. Saya akan bertanggung jawab pula untuk memberdayakan pekerja saya. 

Saat ini, rencana saya itu memang masih berupa mimpi. Belum saya wujudkan, tapi tentu saja saya berharap usaha saya sekarang bisa berkembang. Saya ingin punya masalah itu. Saya ingin keteteran dalam merekap pesanan, karena itu artinya usaha saya membesar dan saya butuh bantuan orang lain.

Orang-orang bilang, if you can dream it, you can make it come true. Saya pun yakin itu benar adanya. Semoga saya punya ketelatenan dan konsistensi untuk menjadikannya nyata, yah!

Gina Valerina

Beware of little expenses, a small leak will sink a great ship
- Benjamin Franklin

Download aplikasi KoinWorks dan mulai kembangkan asetmu sekarang!

Langganan via Email​

Dapatkan Tips dan Berita Keuangan Gratis di Inbox Anda​