Home » Strategi Bisnis » Pelajaran dan Kiat Sukses Pemilik Brand Bisnis Camilan

Pelajaran dan Kiat Sukses Pemilik Brand Bisnis Camilan

Dalam memulai sebuah bisnis camilan, tidak ada salahnya jika kamu juga mencari pelajaran & kiat sukses yang bisa diambil dari para pemilik brand bisnis camilan.

Bisnis makanan, seperti camilan, selalu memiliki daya tariknya tersendiri.

Bisnis ini pun tidak kesulitan mendapatkan konsumen, apalagi jika pemilik bisnis mengetahui detail tentang target konsumennya secara tepat.

Masing-masing bisnis memiliki cara yang berbeda dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Maka dari itu, cara menjadi suksesnya juga pasti berbeda.

Nah, apa saja pelajaran dan kiat sukses yang dilakukan oleh para pemilik brand bisnis camilan yang bisa kamu contoh?

Pelajaran dan Kiat Sukses Pemilik Brand Bisnis Camilan

Tidak sedikit orang yang telah berhasil mengembangkan bisnis camilan mereka.

Mulai dari bisnis camilan emping, keripik, dan beragam makanan ringan lain yang tentunya banyak disukai oleh orang-orang.

Sudah mulai penasaran?

Nah, berikut adalah ringkasan mengenai beberapa pemilik brand bisnis camilan yang telah sukses menjalankan bisnis mereka.

Silakan disimak!


Ida Widyastuti, pendiri Roemah Snack Mekarsari

Terhalang biaya kuliah membuat Ida harus bekerja di perusahaan Jepang yang terletak di Batam.

Sambil menyelam minum air, Ida menjajakan dagangan camilannya tak jauh dari toilet perusahaan, untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Emping Melinjo adalah camilan yang kemudian beliau jual setelah menikah. Bisnis ini tidak berjalan mulus pada awalnya, tetapi setelah dijual dengan harga yang lebih terjangkau akhirnya bisa membuahkan hasil yang lumayan.

Selanjutnya, Ida dan suaminya memilih keluar dari pekerjaannya untuk fokus membangun Roemah Snack Mekarsari.

Usahanya pun berhasil, dan kini Roemah Snack Mekarsari bahkan sudah tersedia di Korea Selatan, dan cukup digemari di sana.

Ida dan bisnisnya pun rutin membantu para pebisnis UMKM lain, dengan pemberian modal dan berbagi ilmu tentang membuat produk & membangun brand sendiri.


Yana Hawi Arifin, pendiri Keripik Karuhun

Beliau mengawali karirnya sebagai seorang pebisnis properti di tahun 1994, namun terpaksa berhenti karena krisis ekonomi yang melanda Asia pada tahun 1999.

Yana tidak mudah menyerah, dan langsung berganti haluan dengan memulai bisnis camilan keripik pedas, atas saran dari keluarganya.

Beliau melakukan inovasi dengan membuat keripik pedas, yang kemudian dicampur dengan aroma jeruk, serta mengoptimalkan kemasan yang menarik.

Secara gratis, Yana juga memberikan produknya kepada saudaranya yang lain agar dapat dibagi-bagi ke rekan mereka.

Ini adalah teknik marketing yang sengaja beliau lakukan agar produk Keripik Karuhun semakin dikenal masyarakat.

Yana sukses besar setelah itu, karena dalam waktu 6 bulan beliau berhasil meraup keuntungan sebanyak Rp6.000.000.000,00.

Karena kegigihan dan keuletannya, Keripik Karuhun yang pada awalnya hanya berhasil dijual sebanyak 30 produk dalam sehari, kini bisa terjual hampir 10.000 produk tiap harinya.

Produk Keripik Karuhun juga kini sudah tersedia di Malaysia dan Singapura.


Tandri Kurniawan, sukses berbisnis Keripik Jamur Tiram

Bekerja menjadi seorang office boy kurang bisa memenuhi kebutuhan hidup Tandri dan keluarganya.

Oleh karena itu, beliau berusaha mencari penghasilan lain dengan iseng menanam jamur. Namun, di awal usaha tersebut, hasilnya pun tidak begitu banyak menghasilkan.

Kira-kira hanya mencapai sekitar Rp7.000.000,00 per tahun.

Tandri kemudian terus memutar otak, dan memutuskan untuk mengolah sendiri jamur yang ditanamnya.

Dengan menjual jamur yang telah diolah menjadi camilan keripik, hasil yang didapat jauh lebih besar daripada menjual hasil jamur ke pemasok.

Beliau juga mencari cara supaya produk keripiknya bisa dikenal orang, dan menggunakan pemasaran online melalui media sosial serta layanan chat BlackBerry Messenger untuk berjualan.

Tandri saat itu sukses meningkatkan pendapatan untuk keluarga; yang tadinya hanya mendapat untung bersih sekitar Rp600.000,00 dari menjual jamur ke pemasok, dengan menjual jamur yang telah diolah menjadi keripik, beliau bisa mengantongi hingga Rp4.000.000,00 tiap bulannya.

Usaha keripik jamurnya pun hingga saat ini masih berkembang, dan sudah banyak dikonsumsi oleh banyak orang.


Riza Rizki Adhiyaksa, pendiri Nanutz Mania

Riza memulai bisnisnya pada tahun 2011.

Beliau mulai berjualan di pinggir jalan raya, dengan produk awal makanan nachos dan modal sebesar Rp300.000,00.

Selama dua tahun setelahnya, Riza fokus menjual produknya di acara-acara publik seperti car free day, dan juga aktif berjualan melalui media sosial.

Beliau juga rajin mencontoh teknik pemasaran yang dilakukan oleh pebisnis camilan lain, contohnya seperti Keripik Maicih.

Perlu diketahui, awalnya Riza merupakan salah satu reseller Keripik Maicih, hingga akhirnya beliau mendapat inspirasi dan berkeinginan untuk memproduksi makanan camilan sendiri.

Hingga kini, Nanutz Mania sudah memiliki sekitar 28 pegawai untuk memproduksi beragam camilan khas daerah, dan juga telah memiliki sebuah pasar swalayan yang memasarkan makanan-makanan camilan tersebut.


Famela Nurul Islami, pendiri LidiGeli

Dalam menjalankan sebuah bisnis, usia muda tidak bisa menjadi penghalang.

Hal ini seperti yang dilakukan oleh Famela Nurul Islami. Pada tahun 2013, Famela memulai bisnis mi lidi pada usianya yang baru menginjak 21 tahun.

Kini, produknya sudah tersebar luas ke seluruh Indonesia, dan mampu mendatangkan pendapatan hingga Rp120.000.000,00 tiap bulannya.

Menakjubkan, bukan?

Serupa dengan para pebisnis lain, LidiGeli mulai dipasarkan pertama kali melalui program reseller, dan juga melalui penawaran ke orang-orang terdekat.


Top Ittipat, pendiri Tao Kae Noi

Kini kita beralih ke negara tetangga, yaitu Thailand.

Di Thailand, seorang pebisnis muda bernama Top Ittipat telah sukses mengembangkan keripik rumput laut dengan nama Tao Kae Noi.

Lahir dan besar di keluarga yang berkecukupan, masalah Top muncul ketika kedua orang tuanya terlilit hutang dan akhirnya bangkrut.

Melalui serangkaian kegagalan usaha, Top akhirnya menemukan cara untuk mengolah rumput laut menjadi camilan keripik.

Top pada akhirnya bisa memenuhi kuota untuk memasarkan produknya ke minimarket dalam dan luar negeri, dan kini memiliki sebuah lahan perkebunan rumput laut, serta mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp450.000.000.000,00 per tahun.

Strategi yang dilakukannya adalah mengelola bisnis rumput laut agar mampu memenuhi permintaan minimarket dan pasar swalayan di negaranya.

Dari sana, Top terus mengembangkan sumber daya yang bisnisnya miliki, hingga akhirnya mampu memenuhi permintaan dari luar negeri.


Ada Pelajaran & Kiat Sukses dari Pemilik Brand Bisnis Camilan yang Bisa Kamu Contoh?

Itulah cerita sukses dari beberapa pemilik brand bisnis camilan dari dalam dan luar negeri.

Ada beberapa kunci sukses yang bisa kamu contoh, di antaranya adalah:

  • Pemilik sebuah bisnis sebaiknya memiliki mental pantang menyerah
  • Pemilik sebuah bisnis tidak selalu memerlukan latar belakang pendidikan tertentu
  • Pemilik sebuah bisnis harus mau terus belajar dan berinovasi, serta sigap dalam melihat peluang
  • Pemilik sebuah bisnis tidak terkekang oleh batasan usia, bisa dimulai sedini mungkin

Bagaimana, sudah siap mengembangkan bisnis camilanmu sendiri?

Semoga ulasan singkat di atas bermanfaat sebagai penyemangat kamu yang sedang merintis sebuah bisnis camilan.

Selamat mencoba!

. . .

Kalau kamu termasuk salah satu pelaku usaha kecil, online sellers, atau freelancers, KoinWorks punya satu solusi nih untuk semua kebutuhan keuangan kamu.

Mulai dari transfer antar bank tanpa biaya admin, pembuatan invoice & laporan keuangan, hingga ke akses yang fleksibel untuk mendapatkan pinjaman– semua ini khusus untuk mendukung usaha & bisnis kamu, dan bisa kamu dapatkan di KoinWorks NEO.

Yuk, cari tahu lebih banyak tentang KoinWorks NEO di sini!

Akbar Rachman

Download aplikasi KoinWorks dan mulai kembangkan asetmu sekarang!

Langganan via Email​

Dapatkan Tips dan Berita Keuangan Gratis di Inbox Anda​