4 Perbedaan Mendasar Pinjaman Dana Tunai Syariah dan Kredit Konvensional – Meski sudah cukup lama hadir di tengah masyarakat, namun masih banyak orang yang hingga saat ini belum memahami perbedaan pinjaman dana tunai syariah dan pinjaman bank konvensional.

Ini memang bukanlah sesuatu yang mengherankan mengingat banyak orang yang masih belum mengerti prinsip – prinsip yang digunakan di dalam bank syariah dibandingkan dengan apa yang digunakan oleh bank konvensional.

Baca Juga: Perbedaan Kredit Tanpa Agunan dan Kredit Dengan Agunan serta Pengaruhnya Terhadap Investor

Harus diakui bahwa kehadiran bank syariah memberikan lebih banyak opsi produk keuangan kepada masyarakat. Seperti halnya pada pembiayaan di bank konvensional, pinjaman dana tunai syariah bisa diakses oleh siapapun yang membutuhkan suntikan dana, baik itu untuk kepentingan bisnis maupun untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif.

Selain bank yang khusus dibangun dengan fondasi syariah, kini bank – bank ternama di Indonesia juga telah banyak yang membuka cabang khusus berbasis syariah, yang berarti bahwa masyarakat tidak perlu lagi merasa khawatir akan tingkat profesionalitas dan pelayanan yang diberikan.

Baca Juga: 3 Keadaan Dimana Pinjaman Bisnis Bisa Sangat Membantu Pebisnis Online

Meski demikian, masyarakat hendaknya tetap belajar untuk memahami apa saja perbedaan antara pinjaman dana tunai syariah dengan kredit atau pinjaman bank konvensional. Hal tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan ketika ingin mengajukan permohonan pinjaman.

4 Perbedaan Mendasar Pinjaman Dana Tunai Syariah dan Kredit Konvensional

1. Bunga

Di dalam pinjaman konvensional, pinjaman atau kredit diberikan atas akad pinjaman dan dengan begitu debitur atau peminjam diwajibkan untuk mengembalikannya bersama dengan bunga.

Akan tetapi, di dalam prinsip syariah, bunga sama sekali tidak diperbolehkan karena dianggap sebagai riba. Oleh sebab itu, di dalam pinjaman dana tunai syariah tidak mengenal prinsip akad bunga, namun memakai akad murabahah atau jual beli, ijarah wa iqtina atau sewa dengan perubahan kepemilikan serta musyarakah mutanaqishah atau capital sharing.

Di dalam akad murabahah, pihak bank bertindak sebagai pembeli benda yang diinginkan oleh debitur atau nasabah. Kemudian, bank akan menjual benda tersebut kepada pihak nasabah dengan margin harga tertentu. Contoh: seorang nasabah ingin membeli sebuah mobil berhaga Rp 150 juta.

Baca Juga: 5 Cara Bagaimana Fintech Mampu Membantu Perkembangan UKM

Oleh bank, mobil tersebut akan dibeli yang kemudian akan menjualnya kembali kepada nasabah yang menginginkannya dengan harga Rp 155 juta. Jumlah tersebut akan diangsur oleh nasabah dalam jangka waktu tertentu. Perbedaan harga atau keuntungan yang ada merupakan keuntungan milik bank.

Di dalam ijarah wa iqtina, pihak bank akan membelikan barang yang diinginkan oleh nasabah. Di sini, nasabah hanya harus menyewa benda tersebut selama jangka waktu tertentu. Akan tetapi, setelah barang tersebut digunakan selama jangka waktu tertentu, nasabah bisa memutuskan untuk membelinya.

Baca Juga: Persiapan dan Strategi Meningkatkan Penjualan Bisnis Online Menjelang Ramadhan dan Lebaran

Di dalam prinsip mutanaqishah, baik bank maupun nasabah menaruh modal di dalam suatu hal, misalnya saja bank memberikan pembiayaan sebesar 60% dari pembelian mobil dan pihak nasabah dikenakan 40%. Di kemudian hari, nasabah dapat membeli porsi kepemilikan bank yang menjadikan mobil tersebut sebagai miliknya pribadi sepenuhnya.

2. Berbagi Resiko

Di dalam system pembiayaan konvensional, pihak nasabah sepenuhnya menanggung resiko apabila tidak dapat mengembalikan pinjaman. Di dalam prinsip syariah, pihak bank sebagai kreditur juga ikut menanggung sebagian resiko tersebut.

Contoh: seorang nasabah meminjam Rp 100 juta dengan kredit konvensional untuk modal usaha. Di sini, nasabah sebagai kreditur diwajibkan untuk membayar kembali pokok pinjaman dengan bunga yang ditentukan meskipun usaha tersebut hanya menghasilkan Rp 75 juta.

Baca Juga: Butuh Modal Usaha Untuk Bisnis Online? Coba Ajukan Melalui Platform P2P Lending

Dengan pinjaman dana tunai syariah, jika nasabah meminjam Rp 100 juta untuk modal usaha, maka bank akan turut menanggung sebagian kerugian apabila ternyata usaha tersebut hanya menghasilkan Rp 75 juta.

3. Halal

Di dalam pembiayaan syariah, dana haruslah disalurkan untuk kepentingan yang halal. Oleh sebab itu, nasabah wajib menyertakan tujuan penggunaan dana dan pemakaiannya pun juga tidak boleh melenceng dari hal tersebut.

4. Ketersediaan Pinjaman

Dalam hal dokumen, baik pinjaman dana tunai syariah maupun kredit konvensional tidaklah jauh berbeda. Satu hal yang menjadi perbedaan adalah bahwa pinjaman syariah menawarkan produk yang dapat digunakan untuk kepentingan tertentu yang tidak terdapat di dalam pinjaman konvensional, misalnya untuk pendidikan, pembiayaan haji dan umroh dan lain sebagainya.


KoinWorks, sebagai salah satu platform P2P Lending yang menyediakan layanan pinjaman untuk kepentingan bisnis online, pembiayaan kesehatan hingga pendanaan pinjaman. Dengan bunga rendah mulai dari 0,75% – 1,67% per bulan, KoinWorks siap mendanai kebutuhan pinjaman Anda hingga Rp 500 juta.


Ajukan Pinjaman


Simulasi Pinjaman Modal Usaha

Jumlah Pinjaman

Suku Bunga/Tahun (APR - %)

Jangka Waktu (Tahun)


Hasil
Bunga Pinjaman
Pokok + Bunga

Cicilan Bulanan:

Syarat Pengajuan Pinjaman di KoinWorks





There are currently no comments.

Apa Komentar Anda?