Bunga bank adalah sebutan untuk imbalan jasa atas pinjaman uang. Imbalan ini adalah suatu kompensasi yang diberikan kepada si pemberi pinjaman karena adanya manfaat ke depan yang didapat dari uang pinjaman tersebut jika nantinya diinvestasikan. Nominal pinjaman tersebut kemudian disebut sebagai “pokok pinjaman” atau principal. Persentase dari pokok pinjaman atau pokok hutang yang dibayarkan sebagai imbal balik atau bunga dalam jangka waktu tertentu kemudian disebut sebagai suku bunga.

Vanhoose, RL dan Miller, tiga ahli perbankan dan pengelolaan keuangan menyebut bahwa suku bunga adalah sejumlah uang, dinilai dalam uang dan diterima kreditur atau pemberi pinjaman, sedangkan suku bunga adalah rasio dari bunga terhadap nominal pinjaman atau kredit.

Salah satu efek atau pengaruh yang sangat mempengaruhi pergerakan harga saham di pasar saham dan paling sering terjadi adalag pengaruh fluktuasi tingkat suku bunga perbankan atau suku bunga yang di dalam negeri ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Perlu kita ketahui bahwa tingkat suku bunga pinjaman maupun simpanan perbankan secara periodic akan mengalami perubahan. Perubahan atau fluktuasi tingkat suku bunga tersebut akan sangat mempengaruhi pergerakan harga saham di bursa efek. Secara teoritis, hubungan antara pergerakan tingkat suku bunga dengan pergerakan harga saham berbanding terbalik, yang berarti bahwa ketika suku bunga perbankan mengalami kenaikan maka harga saham yang diperjual belikan di bursa efek cenderung akan mengalami penurunan karena para investor memilih untuk berinvestasi kepada instrument perbankan, misalnya saja deposito. Sebaliknya, ketika pergerakan tingkat suku bunga mengalami penurunan, maka kemudian harga saham akan naik dikarenakan para investor kembali memilih untuk menginvestasikan uang mereka ke instrument saham.

Faktor kedua yang memberi pengaruh terhadap naik turunnya tingkat suku bunga perbankan terhadap harga – harga saham adalah karena setiap perusahaan pasti mempunyai hutang dan mereka senantiasa mencari sumber – sumber pembiayaan, salah satunya adalah melalui utang. Utang adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan operasional perusahaan, dan hal itu membuat naiknya tingkat suku bunga pinjaman dipastikan akan semakin menambah beban biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya keuntungan perusahaan yang kemudian mendorong peningkatan resiko terhadap perusahaan tersebut.

Oleh sebab itulah, bisa disimpulkan bahwa bagi perusahaan – perusahaan yang mempunyai resiko utang cukup besar, saham – saham perusahaan yang bergerak di industry perbankan serta property mempunyai tingkat sensitivitas tinggi terhadap harga saham perusahaan yang bersangkutan.

Tinggi rendahnya suku bunga merupakan harga dari penggunaan uang untuk tenor atau jangka waktu tertentu atau merupakan harga dari penggunaan uang yang dipinjamn dan di kemudian hari akan dikembalikan sesuai dengan perjanjian. Di Indonesia, tingkat suku bunga domestik berkaitan erat dengan tingkat suku bunga internasional. Ini adalah akibat dari adanya akses pasar keuangan domestik terhadap pasar keuangan internasional dan adanya kebijakan nilai tukar mata uang yang terbilang kurang fleksibel.

Selain suku bunga inernasional, tingkat diskonto suku bunga Indonesia atau yang sering disingkat SBI juga menjadi faktor paling penting dalam menentukan suku bunga yang akan berlaku di Indonesia. Peningkatan diskonto SBI akan segera direspons oleh suku bunga Pasar Uang Antar Bank atau disingkat PUAB sedangkan respons suku bunga desposito baru akan muncul 7 hingga 8 bulan setelahnya.

Secara sederhana bisa disebut bahwa tingkat suku bunga pinjaman maupun simpanan ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang karena di dalam penentuan tingkat suku bunga berlaku hukum permintaan dan penawaran. Ini berarti, ketika penawaran uang tetap dan semakin tinggi pendapatan nasional maka tingkat suku bunga akan semakin tinggi. seperti yang sudah disebut sebelumnya bahwa bunga merupakan satu bentuk imbal jasa atas adanya pinjaman uang.

Adanya perubahan tingkat suku bunga akan mengakibatkan terjadinya fluktuasi harga surat – surat berharga, terutama yang memberikan pendapatan tetap, misalnya saja obligasi. Obligasi sendiri ada dua jenis, yaitu obligasi yang dibuat dan dikeluarkan oleh pemerintah serta obligasi yang dibuat oleh perusahaan. Untuk obligasi jenis yang kedua, paling tidak memiliki dua resiko, yaitu resiko gagal dan resiko bunga, hal tersebut disebabkan karena adanya kemungkinan perusahaan mengalami bangkrut.




There are currently no comments.

Apa Komentar Anda?